Of all the things I've believed in
I just want to get it over with
Tears form behind my eyes
But I do not cry
Counting the days that pass me by
I've been searching deep down in my soul
Words that I'm hearing are starting to get old
It feels like I'm starting all over again
The last three years were just pretend
And I said
Goodbye to you
Goodbye to everything I thought I knew
You were the one I loved
The one thing that I tried to hold on to
I still get lost in your eyes
And it seems that I can't live a day without you
Closing my eyes and you chase my facts away
To a place where I am blinded by the light
But it's not right
Goodbye to you
Goodbye to everything I thought I knew
You were the one I loved The one thing that I tried to hold on to
And it hurts to want everything and nothing at the same time
I want what's yours and I want what's mine
I want you
But I'm not giving in this time
Goodbye to you
Goodbye to everything I thought I knew
You were the one I loved
The one thing that I tried to hold on to
The one thing that I tried to hold on to...
Goodbye to you
Goodbye to everything I thought I knew
You were the one I loved
The one thing that I tried to hold on to
And when the stars fall
I will lie awake
You're my shooting star
skip to main |
skip to sidebar
Pepsin tripsin dan chemotripsin asam amino
Jumat, 03 Juni 2011
Selasa, 31 Mei 2011
Racun lebah bisa "mengendus" bom
Lebah sejak lama diketahui sebagai binatang yang membawa kemaslahatan bagi manusia karena madu yang dihasilkannya. Dan baru-baru ini sejumlah peneliti menemukan racun yang terdapat pada lebah ternyata bisa digunakan untuk mendeteksi bom.
Seperti dikutip dari national geographic, para peneliti dari Massachuseetts Institute of Technology (MIT) memaparkan ada fragmen protein dalam racun lebah yang disebut bombolitin. Fragmen itu dapat mendeteksi bahan peledak, seperti TNT. Pada saat percobaan, tim MIT melapisi bagian dalam tabung karbon dengan bombolitin.
Kemudian tabung itu diletakkan disekitar sampel udara yang diambil dari sekitar barbagai bahan peledak. Peneliti mendapati perubahan panjang gelombang pandaran cahaya tabung berubah ketika molekul nitroaromatik dari bahan peledak bersatu dengan protein dari lebah. Perubahan ini tak kasat mata, tapi dapat dideteksi dengan mikroskop khusus.
Pendeteksi bahan peledak yang saat ini dipakai di bandara mampu menganalisa partikel diudara. Tetapi sensor belum dapat mendeteksi pada level molekul. Ketika dipadankan dengan sensor yang sudah ada di Bandara, bombolitin akan meningkatkan sensitivitas sensor. Beberapa perusahaan komersial serta militer sudah menyatakn tertarik dengan temuan ini. Teknologi tersebut saat ini sedang dalam proses mendapatkan hak paten.
Kamis, 19 Mei 2011
GETAH LAMBUNG
Merupakan cairan yang terdapat dalam lambung yang terdiri dariair, asam lambung (HCL),enzim pencernaan (pepsin,lipase,amylase), garam mineral ( NaCl/Sodium chloride,KCl/potassium chloride,phosphate)
Macam-macam getah lambung :
a. Asam Chlorida ( HCl )
Bersifat bakteriacid ringan yang dihasilkan sel parietal.
Berfungsi untuk mengatifkan pepsinogen menjadi pepsin.
b. Pepsin
Berfungsi untuk memecah protein menjadi protease.
Di dalam pancreas ( sbg proteolitik )
Pepsin dihasilkan disel gablet yang disebut chief cell .
c. Lipase
Berfungsi untuk memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol
d. Mucin
Berfungsi untuk melindungi lambung dan melindikan makanan.
Fungsi Lambung :
1. Sebagai bakteriacid ringan
2. Sebagai pencernaan makanan
3. Sebagai daya reabsorbsi dari makanan
4. Mengekskresikan mucin,gastrin dan FIE ( Faktor Intrinsik Eritropoetik )
Cara memperoleh getah lambung:
1. 1. Sondage lambung
Ada 3 macam sonde : a. sonde wangestane (pjg 45,55,65,75 cm)
b. sonde Levine ( pjg 50,60,70,80 cm)
c. sonde rile ( pjg 49,65,81 cm )
2. Endoskopi
3. Ultrasonographi
Fungsi pemeriksaan getah lambung :
Ø Mengetahui motilitas lambung
Ø Mengetahui sekresi lambung
Ø Mencari adanya unsur-unsur abnormal ( pus,leukosit,eritrosit)
Ø Untuk medical forensic
Ø Untuk pemeriksaan citologi ( mengetahui adanya sel tumor )
Pemeriksaan Getah Lambung meliputi:
Ø Makroskopis
Ø Mikroskopis
Ø Kimia
A. Makroskopis
Tujuan : untuk mengetahui bentuk dan gambaran cairna yang diperiksa secara makroskopis.
Prinsip : bentuk dan gambaran cairan dilihat secra visual dengan mata.
1) Volume
Normal : 25-72 ml
Abnormal : < 25 ml : hiposekresi hipoacidity
> 75 ml : hiposekresi / hyperacidity
> 100 ml : patologis (gastritis kronis, obstruksi pylorus )
2) Warna
Normal : abu-abu mutiara & opalescent ( agak keruh )
Abnormal : Hijau (bilirubin )
Kuning ( biliverdin )
Merah (darah )
Coklat ( Hb yang teroksidasi / hematin )
3) Bau
Normal : agak asam
Abnormal : -asam keras ( adanya statis desertai peragian )
-busuk ( nekrosis lambung )
-feses ( statis dalam usus dan fisteri antara usus dan lambung )
4) Lendir
Normal : (-)
Abnormal : (+) berasal dari mulut saluran pencernaan
Pengaruh lendir : lender akan mengikat sebagian asam bebas sehingga menyebabakan hasil rendah palsu.
5) Sisa makanan
Normal : (-)
Abnormal : (+)
6) Pus
Normal : (-)
Abnormal : (+) menunjuakn adanya proses tumor.
a. Mikroskopis
Syarat sampel : sampel terbaik pada keadaan puasa karena bila tidak puasa sisa makanan akan mempengaruhi hasil pemeriksaan sehingga supaya didapatkan hasil pemeriksaan yang benar sampel berasal dari lambung.
METODE pemeriksaan
Natif : - setetes getah lambung diletakkan diatas objek glass kemudian dibuat
apusan
-periksa dibawah mikroskop dengan objektif 10x/40x
Pengecatan :
Sudan III : lemak
Lugol : amylum
Loeffler : leptospira
Gram : mencari adanya kuman
Zn : mengetahui adanya kuman M. TBC
Papanicolou : mencari adanya sel tumor
Peroksidase : membedakan lekosit dari jenis granula, monosit dan limfosit
b. Kimia
Meliputi :
Ø Keasaman getah lambung ( HCl bebas )
Ø Pepsin
Ø Asam laktat
Ø Darah samar
Pemeriksaan keasaman
Guna : Mengetahui apakah lambung mensekresikan HCl atau tidak
Mengetahui apakah HCl yang disekresikan lambung dalam batas normal atau tidak.
PEMERIKSAAN HCl BEBAS
Syarat : tidak mengandung lendir
Ph < 4 karena HCl bebas dapat terdeteksi pada Ph 2,9 – 4.
Metode : Indikator Toepfer
Indikator Gunzburg
1) Indikator Toepfer
Tujuan : mengetahui ada tidaknya asam total dalam getah lambung.
Prinsip : asam total dalam getah lambung akan bereaksi dengan indikator toepfer membentuk warna merah.
Cara kerja : 1ml getah lambung dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
Tambahkan 1 tts indicator toepfer,campur.
Baca hasil : (+) warna merah
(-) warna kuning
Harga normal : (+) warna merah
2) Indikator Gunzburg
Tujuan : mengetahui ada tidaknya HCl bebas dalam getah lambung.
Prinsip : HCl bebas dalam getah lambung akan bereaksi dengan indikator gunzburg membentuk warna merah.
Cara kerja : Masukkan 5-10 tts indikator gunzburg kedalam cawan.
Panaskan mendidih sampai kering, timbul bercak berwarna
kuning.
Tambahkan beberapa tetes getah lambung yang diperiksa
diatas bercak yang telah kering,panaskan lagi sampai kering.
Amati hasil : (+) warna merah jambu
(-) tidak terjadi warna merah jambu
Harga normal : (+) wrana merah jambu
PEMERIKSAAN ASAM LAKTAT
Metode Laktat
Tujuan : untuk mengetahui adanya asam laktat dalam getah lambung
Prinsip : reaksi antara FeCl3 10% denagn asam laktat membentuk ferri laktat yang berwarna kuning
Cara kerja : Masukkan 20 ml aquadest pada tabung reaksi
Tambahkan 4tts FeCl3 10%, campur, dan bagi 2:
Tabung I : sbg control + 1ml aquadest
Tabung II : sbg test + 1ml getah lambung
Bandingkan. Jika pada tabung test lebih kuning dari tabung kontrol maka hasil test (+) dengan latar belakang putih.
Harga normal : (-) tidak terjadi warna kuning melebihi control
PEMBAHASAN:
Ø Pemeriksaan motilitas dengan menggunakan sondage sangat primitive bila dibandingkan dengan pemeriksaan radiologic, tetapi mempunyai kelebihan juga atas pemeriksaan radiologic karena dengan sondage pasien tidak terkena sinar rontgen. Biasanya pemeriksaan terhadap motilitas tidak dilakukan tersendiri, melainkan menjadi sebagian dari deretan pemeriksaan getah lambung.
Ø Oenderita diminta dalam keadaan ruchter, makanna dan minuman terakhir kira-kira 10 jam sebelumnya. Bila dalam cairan itu terlihat sisa makanan itu menunjukan kepada satu keadaan yang menghambat pengosongan lambung. Volume cairan yang melebihi 75ml mungkin berarti hipersekresi lambung seperti yang dijumpai pada gastritis.
Ø Asam laktat mungkin ada jika jumlah HCl bebas jauh berkurang atau tidak ada sama sekali ( carcinoma gastritis, chronica ) dan juga didapat pada obstruksi pylorus dengan hipochlorhydria.
Kamis, 14 April 2011
Laju Endap Darah
Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) yang juga disebut kecepatan endap darah (KED) atau laju sedimentasi eritrosit adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). Sebagian ahli hematologi, LED tidak andal karena tidak spesifik, dan dipengaruhi oleh faktor fisiologis yang menyebabkan temuan tidak akurat.
Pemeriksaan CRP dipertimbangkan lebih berguna daripada LED karena kenaikan kadar CRP terjadi lebih cepat selama proses inflamasi akut, dan lebih cepat juga kembali ke kadar normal daripada LED. Namun, beberapa dokter masih mengharuskan uji LED bila ingin membuat perhitungan kasar mengenai proses penyakit, dan bermanfaat untuk mengikuti perjalanan penyakit. Jika nilai LED meningkat, maka uji laboratorium lain harus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah klinis yang muncul.
Metode
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.
LED berlangsung 3 tahap, tahap ke-1 penyusunan letak eritrosit (rouleaux formation) dimana kecepatan sedimentasi sangat sedikit, tahap ke-2 kecepatan sedimentasi agak cepat, dan tahap ke-3 kecepatan sedimentasi sangat rendah.
Prosedur
Nilai Rujukan
Masalah Klinik
Faktor-faktor yang mempengaruhi temuan laboratorium :
Pemeriksaan CRP dipertimbangkan lebih berguna daripada LED karena kenaikan kadar CRP terjadi lebih cepat selama proses inflamasi akut, dan lebih cepat juga kembali ke kadar normal daripada LED. Namun, beberapa dokter masih mengharuskan uji LED bila ingin membuat perhitungan kasar mengenai proses penyakit, dan bermanfaat untuk mengikuti perjalanan penyakit. Jika nilai LED meningkat, maka uji laboratorium lain harus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah klinis yang muncul.
Metode
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.
LED berlangsung 3 tahap, tahap ke-1 penyusunan letak eritrosit (rouleaux formation) dimana kecepatan sedimentasi sangat sedikit, tahap ke-2 kecepatan sedimentasi agak cepat, dan tahap ke-3 kecepatan sedimentasi sangat rendah.
Prosedur
- Metode Westergreen
- Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % ) atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.
- Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai tanda/skala 0.
- Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun sinar matahari langsung.
- Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit.
- Metode Wintrobe
- Sampel yang digunakan berupa darah EDTA atau darah Amonium-kalium oksalat. Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.
- Sampel dimasukkan ke dalam tabung Wintrobe menggunakan pipet Pasteur sampai tanda 0.
- Letakkan tabung dengan posisi tegak lurus.
- Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm menurunnya eritrosit.
Nilai Rujukan
- Metode Westergreen :
- Pria : 0 - 15 mm/jam
- Wanita : 0 - 20 mm/jam
- Metode Wintrobe :
- Pria : 0 - 9 mm/jam
- Wanita 0 - 15 mm/jam
Masalah Klinik
- Penurunan kadar : polisitemia vera, CHF, anemia sel sabit, mononukleus infeksiosa, defisiensi faktor V, artritis degeneratif, angina pektoris. Pengaruh obat : Etambutol (myambutol), kinin, salisilat (aspirin), kortison, prednison.
- Peningkatan kadar : artirits reumatoid, demam rematik, MCI akut, kanker (lambung, kolon, payudara, hati, ginjal), penyakit Hodgkin, mieloma multipel, limfosarkoma, endokarditis bakterial, gout, hepatitis, sirosis hati, inflamasi panggul akut, sifilis, tuberkulosis, glomerulonefritis, penyakit hemolitik pada bayi baru lahir (eritroblastosis fetalis), SLE, kehamilan (trimester kedua dan ketiga). Pengaruh obat : Dextran, metildopa (Aldomet), metilsergid (Sansert), penisilamin (Cuprimine), prokainamid (Pronestyl), teofilin, kontrasepsi oral, vitamin A.
Faktor-faktor yang mempengaruhi temuan laboratorium :
- Faktor yang mengurangi LED : bayi baru lahir (penurunan fibrinogen), obat (lihat pengaruh obat), gula darah tinggi, albumin serum, fosfolipid serum, kelebihan antikoagulan, penurunan suhu.
- Faktor yang meningkatkan LED : kehamilan (trimester kedua dan ketiga), menstruasi, obat (lihat pengaruh obat), keberadan kolesterol, fibrinogen, globulin, peningkatan suhu, kemiringan tabung.
Selasa, 12 April 2011
Fasciola gigantica
Nama : Fasciola gigantica
Phylum : Platyhelminthes
Ordo : Digenea
Family : Fasciolidae
Species : Fasciola gigantica
Kelas : Trematoda
Phylum : Platyhelminthes
Ordo : Digenea
Family : Fasciolidae
Species : Fasciola gigantica
Kelas : Trematoda
Fasciola gigantica merupakan satu-satunya cacing trematoda diIndonesia yang menyebabkan infeksi fasciolosis pada hewan ruminansia. Penyakitini sangat merugikan karena dapat menyebabkan penurunan bobot hidup,penurunan produksi, pengafkiran organ tubuh terutama hati sehingga hatiterbuang percuma, bahkan dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia, secaraekonomi kerugiannya dapat mencapai Rp. 513,6 milyar/tahun. Oleh karena itu,perlu diketahui penyebab dan dampak dari cacing jenis ini.
Fasciola gigantica adalah parasit yang cukup potensial penyebab fascioliasis atau distomatosis. Di Indonesia fascioliasis merupakan salah satupenyakit ternak yang telah lama dikenal dan tersebar secara luas. Keadaan alam Indonesia dengan curah hujan dan kelembaban yang tinggi, dan ditunjang pulaoleh sifatnya yang hemaprodit yakni berkelamin jantan dan betina akan mempercepat perkembangbiakan cacing hati tersebut. Cacing ini banyak menyerang hewan ruminansia yang biasanya memakan rumput yang tercemar metacercaria, tetapi dapat juga menyerang manusia. Cacing ini termasuk cacingdaun yang besar dengan ukuran 30 mm panjang dan 13 mm lebar.
Fasciola gigantica bentuknya pipih seperti daun dan habitat utamanya dihati maka dikenal dengan nama cacing hati. Ada tiga cara larva infektif cacinghati setelah masuk ke dalam tubuh sampai ke organ hati hewan yang terinfeksi.Pertama ialah ikut bersama aliran darah, kemudian menembus kapiler darah, teruske vena porta dan akhirya sampai ke hati. Kedua, dari lambung (abomasum)menembus mucosa usus (duodenum), ke saluran empedu dan akhirnya sampai keparenkhim hati. Ketiga, yang umum terjadi adalah setelah menembus usus menujuperitonium, lalu menembus kapsula hati yang akhirya sampai ke hati.Cacing dewasa hidup dalam saluran empedu hospes definitif (terutamaruminansia kadang juga orang). Cacing bertelur dan keluar melalui saluranempedu dan keluar melalui feses. Telur berkembang membentuk meracidiumdalam waktu 9-10 hari pada suhu optimum. Meracidium mencari host intermedietsiput Lymnea rubiginosa dan berkembang menjadi cercaria. Cercaria keluar darisiput dan menempel pada tanaman air/rumput/sayuran. Cercaria melepaskanekornya membetuk metacercaria. Bila rumput/tanaman yang mengandung metacercaria dimakan oleh ternak/orang, maka cacing akan menginfeksi hospesdefinitif dan berkembang menjadi cacing dewasa .Cacing dalam saluran empedu menyebabkan peradangan sehingga merangsang terbentuknya jaringan fibrosapada dinding saluran empedu. Penebalan saluran empedu menyebabkan cairan empedu mengalir tidak lancar. Disamping itu pengaruh cacing dalam hatimenyebabkan kerusakan parenchym hati dan mengakibatkan sirosis hepatis.Hambatan cairan empedu keluar dari saluran empedu menyebabkan ichterus. Bilapenyakit bertambah parah akan menyebabkan tidak berfungsinya hati
Fasciola gigantic mempunyai daur hidup yang sama dengan fasciolahepatica dan biasanya terdapat pada sapi dan ruminansia lain di asia, afrika dandaerah lain. Cacing ini jarang menginfeksi manusia.
Fasciola gigantic tidak selebar Fasciola Hepatica tetapi lebih panjang dengan ukurab 25 – 75 mm x 3 – 13 mm
Prevalensi penyakit ini pada ternak di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Jawa Barat dapat mencapai 90% dan di Daerah Istimewa Yogyakarta kasus kejadiannya antara 40-90%, maka perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya penularan penyakit ini pada manusia di Indonesia.
Sabtu, 09 April 2011
Leukimia ( kanker darah )
Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi kembali.
Pada kasus leukemia kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan.
Penyakit Leukemia Akut dan Kronis
Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Apabila hal ini tidak segera diobati, maka dapat menyebabkan kematian dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun.
Leukemia diklasifikasikan berdasarkan jenis sel
Ketika pada pemeriksaan diketahui bahwa leukemia mempengaruhi limfosit atau sel limfoid, maka disebut leukemia limfositik. Sedangkan leukemia yang mempengaruhi sel mieloid seperti neutrofil, basofil, dan eosinofil, disebut leukemia mielositik.
Dari klasifikasi ini, maka Leukemia dibagi menjadi empat type sebutan;
1. Leukemia limfositik akut (LLA). Merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih.
2. Leukemia mielositik akut (LMA). Ini lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
3. Leukemia limfositik kronis (LLK). Hal ini sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak.
4. Leukemia mielositik kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa. Dapat juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit.
Penyebab Penyakit Leukemia
Sampai saat ini penyebab penyakit leukemia belum diketahui secara pasti, akan tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempengaruhi frekuensi terjadinya leukemia.
1. Radiasi. Hal ini ditunjang dengan beberapa laporan dari beberapa riset yang menangani kasus Leukemia bahwa Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia, Penerita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia, Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.
2. Leukemogenik. Beberapa zat kimia dilaporkan telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, misalnya racun lingkungan seperti benzena, bahan kimia inustri seperti insektisida, obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi.
3. Herediter. Penderita Down Syndrom memiliki insidensi leukemia akut 20 kali lebih besar dari orang normal.
4. Virus. Beberapa jenis virus dapat menyebabkan leukemia, seperti retrovirus, virus leukemia feline, HTLV-1 pada dewasa.
Tanda dan Gejala Penyakit Leukemia
Gejala Leukemia yang ditimbulkan umumnya berbeda diantara penderita, namun demikian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Anemia. Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernafas cepat (sel darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam tubuh kurang, akibatnya penderita bernafas cepat sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan oxygen dalam tubuh).
2. Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar karena didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan kulit).
3. Terserang Infeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal (abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena infeksi virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.
4. Nyeri Tulang dan Persendian. Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel darah putih.
5. Nyeri Perut. Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita leukemia.
6. Pembengkakan Kelenjar Lympa. Penderita kemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang dibawah lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan menyebabkan pembengkakan.
7. Kesulitan Bernafas (Dyspnea). Penderita mungkin menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.
Diagnosa Penyakit Leukemia (Kanker Darah)
Penyakit Leukemia dapat dipastikan dengan beberapa pemeriksaan, diantaranya adalah ; Biopsy, Pemeriksaan darah {complete blood count (CBC)}, CT or CAT scan, magnetic resonance imaging (MRI), X-ray, Ultrasound, Spinal tap/lumbar puncture.
Penanganan dan Pengobatan Leukemia
Penanganan kasus penyakit Leukemia biasanya dimulai dari gejala yang muncul, seperti anemia, perdarahan dan infeksi. Secara garis besar penanganan dan pengobatan leukemia bisa dilakukan dengan cara single ataupun gabungan dari beberapa metode dibawah ini:
1. Chemotherapy/intrathecal medications
2. Therapy Radiasi. Metode ini sangat jarang sekali digunakan
3. Transplantasi bone marrow (sumsum tulang)
4. Pemberian obat-obatan tablet dan suntik
5. Transfusi sel darah merah atau platelet.
Sistem Therapi yang sering digunakan dalam menangani penderita leukemia adalah kombinasi antara Chemotherapy (kemoterapi) dan pemberian obat-obatan yang berfokus pada pemberhentian produksi sel darah putih yang abnormal dalam bone marrow. Selanjutnya adalah penanganan terhadap beberapa gejala dan tanda yang telah ditampakkan oleh tubuh penderita dengan monitor yang komprehensive.
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi kembali.
Pada kasus leukemia kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan.
Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Apabila hal ini tidak segera diobati, maka dapat menyebabkan kematian dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun.
Ketika pada pemeriksaan diketahui bahwa leukemia mempengaruhi limfosit atau sel limfoid, maka disebut leukemia limfositik. Sedangkan leukemia yang mempengaruhi sel mieloid seperti neutrofil, basofil, dan eosinofil, disebut leukemia mielositik.
Dari klasifikasi ini, maka Leukemia dibagi menjadi empat type sebutan;
1. Leukemia limfositik akut (LLA). Merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih.
2. Leukemia mielositik akut (LMA). Ini lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
3. Leukemia limfositik kronis (LLK). Hal ini sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak.
4. Leukemia mielositik kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa. Dapat juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit.
Sampai saat ini penyebab penyakit leukemia belum diketahui secara pasti, akan tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempengaruhi frekuensi terjadinya leukemia.
1. Radiasi. Hal ini ditunjang dengan beberapa laporan dari beberapa riset yang menangani kasus Leukemia bahwa Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia, Penerita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia, Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.
2. Leukemogenik. Beberapa zat kimia dilaporkan telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, misalnya racun lingkungan seperti benzena, bahan kimia inustri seperti insektisida, obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi.
3. Herediter. Penderita Down Syndrom memiliki insidensi leukemia akut 20 kali lebih besar dari orang normal.
4. Virus. Beberapa jenis virus dapat menyebabkan leukemia, seperti retrovirus, virus leukemia feline, HTLV-1 pada dewasa.
Gejala Leukemia yang ditimbulkan umumnya berbeda diantara penderita, namun demikian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Anemia. Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernafas cepat (sel darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam tubuh kurang, akibatnya penderita bernafas cepat sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan oxygen dalam tubuh).
2. Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar karena didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan kulit).
3. Terserang Infeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal (abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena infeksi virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.
4. Nyeri Tulang dan Persendian. Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel darah putih.
5. Nyeri Perut. Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita leukemia.
6. Pembengkakan Kelenjar Lympa. Penderita kemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang dibawah lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan menyebabkan pembengkakan.
7. Kesulitan Bernafas (Dyspnea). Penderita mungkin menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.
Penyakit Leukemia dapat dipastikan dengan beberapa pemeriksaan, diantaranya adalah ; Biopsy, Pemeriksaan darah {complete blood count (CBC)}, CT or CAT scan, magnetic resonance imaging (MRI), X-ray, Ultrasound, Spinal tap/lumbar puncture.
Penanganan kasus penyakit Leukemia biasanya dimulai dari gejala yang muncul, seperti anemia, perdarahan dan infeksi. Secara garis besar penanganan dan pengobatan leukemia bisa dilakukan dengan cara single ataupun gabungan dari beberapa metode dibawah ini:
1. Chemotherapy/intrathecal medications
2. Therapy Radiasi. Metode ini sangat jarang sekali digunakan
3. Transplantasi bone marrow (sumsum tulang)
4. Pemberian obat-obatan tablet dan suntik
5. Transfusi sel darah merah atau platelet.
Sistem Therapi yang sering digunakan dalam menangani penderita leukemia adalah kombinasi antara Chemotherapy (kemoterapi) dan pemberian obat-obatan yang berfokus pada pemberhentian produksi sel darah putih yang abnormal dalam bone marrow. Selanjutnya adalah penanganan terhadap beberapa gejala dan tanda yang telah ditampakkan oleh tubuh penderita dengan monitor yang komprehensive.
Hematologi Rutin dan Ferritin
Pemeriksaan ferritin tidak dapat dipisahkan dengan pemeriksaan hematologi rutin agar dapat memberikan informasi diagnostik lebih baik. Jika ditemukan keadaan anemia mikrositik dan hipokromik, maka pemeriksaan ferritin dapat digunakan untuk membedakan anemia yang disebabkan thalassemia atau infeksi kronik dan anemia yang disebabkan tumor dan lain-lain.
Darah adalah cairan berwarna merah yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi.
Fungsi darah :
- transportasi (sari makanan, oksigen, karbondioksida, sampah dan air)
- termoregulasi (pengatur suhu tubuh)
- imunologi (pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri)
- homeostasis (mengatur keseimbangan zat, pengatur pH tubuh)
Sel darah :
1. Sel darah merah (eritrosit)
Mengangkut oksigen dan karbondioksida.
2. Sel darah putih (leukosit)
Pertahanan tubuh terhadap virus dan bakteri.
3. Platelet (trombosit)
Berperan aktif pada pembekuan darah (koagulasi) dan menghentikan perdarahan (hemostasis)
Pemeriksaan Hematologi Rutin
Mengetahui keadaan darah dan komponennya untuk membantu skrining dan diagnosis berbagai penyakit.
a. Eritrosit : mengetahui kelainan sel darah merah yang berfungsi sebagai alat transport utama untuk membawa oksigen
b. Hemoglobin (Hb) : menentukan konsentrasi Hb (protein dalam eritrosit yang berfungsi membawa oksigen ke dalam tubuh) pada komponen darah, seperti evaluasi keadaan anemia.
c. Leukosit : mengetahui kelainan sel darah putih yang bertanggung jawab terhadap imunitas tubuh, evaluasi infeksi bakteri dan virus, proses metabolik toksik, dan lain-lain
d. Trombosit : mengevaluasi, diagnosis dan pemantauan perdarahan, gangguan pembekuan darah, dan lain-lain
e. Hematokrit : menentukan keadaan anemia, kehilangan darah, anemia hemolitik, polisitemia, dan lain-lain
f. Nilai-nilai MC : mengetahui rata-rata ukuran dan banyaknya hemoglobin yang terdapat dalam eritrosit
- Mean corpuscular hemoglobin (MCH) : rata-rata banyaknya Hb yang terdapat dalam eritrosit, mendiagnosis kelainan Hb seperti thalassemia.
- Mean corpuscular volume (MCV) : volume rata-rata sebuah eritrosit, mendiagnosis kelainan hemoglobin seperti thalassemia dan lain-lain.
Bagaimana hubungan pemeriksaan hematologi rutin dan ferritin ?
Jika hasil pemeriksaan hematologi rutin terutama eritrosit, Hb, hematokrit, dan nilai-nilai MC menunjukkan hasil yang abnormal, mungkin disebabkan oleh jumlah cadangan besi dalam tubuh. Oleh karena itu, harus dilanjutkan dengan pemeriksaan ferritin.
Ferritin
Ferritin adalah cadangan besi dalam tubuh. Zat besi menjadi sangat penting dalam kualitas manusia karena setiap pertumbuhan sel manusia membutuhkan keberadaan zat besi ini.
Tujuan pemeriksaan ferritin :
- melengkapi pemeriksaan hematologi pada anemia
- pemantauan cadangan besi dalam tubuh
- mengetahui risiko diabetes pada kehamilan (ferritin >300mg/ml)
- pemantauan pasien penerima transfusi darah terus-menerus/berlebihan
- pemantauan pasien yang mendapatkan terapi besi
Faktor risiko :
- seseorang yang mempunyai gejala anemia
- wanita hamil, karena mayoritas secara fisiologis mereka mengalami defisiensi zat besi
- anak-anak, prevalensi anemia defisiensi besi di Indonesia tinggi terutama pada anak-anak
- pasien transfusi darah rutin, untuk mengetahui risiko kelebihan zat besi yang dapat menumpuk dalam tubuh
Peningkatan kadar ferritin :
- gangguan hati
- transfusi darah terus-menerus/berlebihan
- hemokromatosis/penyakit kelebihan besi yang diturunkan
- anemia hemolitik
- keganasan (sintesis ferritin oleh sel tumor)
- terganggunya klirens ferritin dari plasma
- diabetes pada kehamilan
- dan lain-lain
Penurunan kadar ferritin :
- anemia defisiensi besi
- kehilangan banyak darah
Darah adalah cairan berwarna merah yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi.
Fungsi darah :
- transportasi (sari makanan, oksigen, karbondioksida, sampah dan air)
- termoregulasi (pengatur suhu tubuh)
- imunologi (pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri)
- homeostasis (mengatur keseimbangan zat, pengatur pH tubuh)
Sel darah :
1. Sel darah merah (eritrosit)
Mengangkut oksigen dan karbondioksida.
2. Sel darah putih (leukosit)
Pertahanan tubuh terhadap virus dan bakteri.
3. Platelet (trombosit)
Berperan aktif pada pembekuan darah (koagulasi) dan menghentikan perdarahan (hemostasis)
Pemeriksaan Hematologi Rutin
Mengetahui keadaan darah dan komponennya untuk membantu skrining dan diagnosis berbagai penyakit.
a. Eritrosit : mengetahui kelainan sel darah merah yang berfungsi sebagai alat transport utama untuk membawa oksigen
b. Hemoglobin (Hb) : menentukan konsentrasi Hb (protein dalam eritrosit yang berfungsi membawa oksigen ke dalam tubuh) pada komponen darah, seperti evaluasi keadaan anemia.
c. Leukosit : mengetahui kelainan sel darah putih yang bertanggung jawab terhadap imunitas tubuh, evaluasi infeksi bakteri dan virus, proses metabolik toksik, dan lain-lain
d. Trombosit : mengevaluasi, diagnosis dan pemantauan perdarahan, gangguan pembekuan darah, dan lain-lain
e. Hematokrit : menentukan keadaan anemia, kehilangan darah, anemia hemolitik, polisitemia, dan lain-lain
f. Nilai-nilai MC : mengetahui rata-rata ukuran dan banyaknya hemoglobin yang terdapat dalam eritrosit
- Mean corpuscular hemoglobin (MCH) : rata-rata banyaknya Hb yang terdapat dalam eritrosit, mendiagnosis kelainan Hb seperti thalassemia.
- Mean corpuscular volume (MCV) : volume rata-rata sebuah eritrosit, mendiagnosis kelainan hemoglobin seperti thalassemia dan lain-lain.
Bagaimana hubungan pemeriksaan hematologi rutin dan ferritin ?
Jika hasil pemeriksaan hematologi rutin terutama eritrosit, Hb, hematokrit, dan nilai-nilai MC menunjukkan hasil yang abnormal, mungkin disebabkan oleh jumlah cadangan besi dalam tubuh. Oleh karena itu, harus dilanjutkan dengan pemeriksaan ferritin.
Ferritin
Ferritin adalah cadangan besi dalam tubuh. Zat besi menjadi sangat penting dalam kualitas manusia karena setiap pertumbuhan sel manusia membutuhkan keberadaan zat besi ini.
Tujuan pemeriksaan ferritin :
- melengkapi pemeriksaan hematologi pada anemia
- pemantauan cadangan besi dalam tubuh
- mengetahui risiko diabetes pada kehamilan (ferritin >300mg/ml)
- pemantauan pasien penerima transfusi darah terus-menerus/berlebihan
- pemantauan pasien yang mendapatkan terapi besi
Faktor risiko :
- seseorang yang mempunyai gejala anemia
- wanita hamil, karena mayoritas secara fisiologis mereka mengalami defisiensi zat besi
- anak-anak, prevalensi anemia defisiensi besi di Indonesia tinggi terutama pada anak-anak
- pasien transfusi darah rutin, untuk mengetahui risiko kelebihan zat besi yang dapat menumpuk dalam tubuh
Peningkatan kadar ferritin :
- gangguan hati
- transfusi darah terus-menerus/berlebihan
- hemokromatosis/penyakit kelebihan besi yang diturunkan
- anemia hemolitik
- keganasan (sintesis ferritin oleh sel tumor)
- terganggunya klirens ferritin dari plasma
- diabetes pada kehamilan
- dan lain-lain
Penurunan kadar ferritin :
- anemia defisiensi besi
- kehilangan banyak darah
Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
About Me
Facebook Badge
Feedjit
Blog Archive
Labels
- gadjet (3)
- health (2)
- hematologi (2)
- intermezo (3)
- islamic (2)
- kimia klinik (1)
- Parasitologi (1)
